Senin, 29 Februari 2016

Memilih

Hari terakhir bulan ini adalah hari yang unik karena menurut kalender hanya terulang kembali setiap 4 tahun. Di hari ini aku mempersiapkan segala sesuatu untuk izin berangkat kantor. Ada panggilan dari alam. Sebelum memulai blog ini aku sudah berencana untuk membawa stok rokok sebanyak banyaknya untuk perjalanan panjang ini. Dengan agak berat akhirnya ku lawan untuk merokok.

Soto pagi ini cukup mengisi perutku untuk siap beraktivitas. Perjalananku dimulai dari pagi pukul 04.30 hingga 07.30. Dari Kudus hingga Ungaran. Cukup melelahkan. Sempat aku hampir tidak diizinkan untuk berangkat oleh co-mentor. Meninggalkan kantor pun agak berat.

Bismillah aku akan berusaha untuk bisa mempertanggungjawabkan setiap tindakanku.

Minggu, 28 Februari 2016

Menikmati Segarnya Desa Rahtawu

Perjalanan menuju Rahtawu aku sengaja membeli permen Frozz untuk mengurangi rasa ingin merokok. Memang udara dan suasananya sagat mendukung dan nikmat sekali untuk merokok, namun aku coba tahan sampai malam datang. Disana hujan terus dari pagi sampai sore. Suasana dingin menyelimuti kami. Tak ada penghangat apapun disini, hanya jaket saja yang aku bawa. Itupun jaket tipis. Melihat saudara-saudara disana sudah membuatku hangat.

Malam hari aku terlelap sejenak hingga pagi datang dan aku harus memulai agenda selanjutnya.

Sabtu, 27 Februari 2016

Mengulangi Kesalahan

Dua hari yang lalu aku merusak semangatku sendiri. Hari ini sekali lagi. Hmm... Benar benar terasa berat tubuh ini. Menapaki momen penting bagi adik-adikku tetapi aku malah tidak mensyukuri nikmat-Mu. sungguh celaka diri ini.

Aku memang tidak merokok. Tetapi aku tetap saja tak lebih baik. Itu karena satu hal yang tak kalah beratnya. O.

Jumat, 26 Februari 2016

Merindukan Hangat Senyuman

:')
"Semenjak asap bersahabat dengan paru-paru ini lagi. Sejak saat itu pula aku mulai menjauhinya. Dalam hati, aku merasa malu kepadanya. Walau dia pun tak tau apa yang terjadi. Hingga akhirnya dia tau lewat entah darimana. Betapa sadisnya aku menumpahkan air dari dalam gelasnya."

H-2
Malam itu dia menelponku. Atau lebih tepatnya kita saling bertegur sapa kembali melalui telpon. Setelah hampir 4 tahun mungkin. Dia tidak berubah. Aku masih ingat sekali kelembutannya di sore itu. Hampir saja aku menyalahkan keadaan kami.

Namun, tidak hanya dia. Ada juga gadis yang begitu sabar mendampingiku hingga sekarang. Begitu sakitnya ia mendengar kesaksianku.

Kamis, 25 Februari 2016

Berhenti Saja Tidak Cukup

Baru kemarin aku mencoba berhenti, bahkan aku rasa belum sampai 24 Jam. Namun perasaanku semakin gelisah. Tidak ada rasa nyaman sedikitpun. Semua serasa ingin segera terselesaikan. Namun, malah melakukan pekerjaan yang tiada berguna. Itulah sedikit catatan 24 Jam pertama.

Singkat cerita pagi itu suasana begitu tenang dan sepi hingga akhirnya membawaku pada kebiasaan burukku. Awalnya aku akan mengerjakan hal yang bisa ku kerjakan segera. Namun tidak. Begitu aku menghadap laptop, kebiasaanku yang timbul tenggelam bersama kebiasaan ku berasap dulu pun semakin menjadi. 

Aku masih ingat betapa nikmatnya melamunkan kesulitan sambil menghisap asap tembakau. Memang jadi lebih nyaman, aku akui itu dulu. semakin hari semakin menjadi kebiasaan. Namun begitu hal tersebut menjadi kebiasaan, menghisap asap tidak merubah keadaan apapun. Tidak lebih baik. Malah semakin tidak nyaman ketika menghisap asap dengan serakah. Aku merindukan aku yang bisa berpikir dengan lebih tenang.

Rabu, 24 Februari 2016

Coffeeshot

Siang ini aku masih menghisap rokok batangan yang aku beli semalam. Sudah tinggal 7 batang dibungkus yang berisi 12. Sewaktu membelinya perasaanku tidak enak. Sorenya kubuang semuanya di bak sampah. Yah memang harus kulakukan.

12 Jam pertama.
Perasaanku biasa saja, tidak ada yang berubah. Semuanya baik baik saja. Untuk mengantisipasinya aku membeli 1 pak permen Kopi*o.
Satu yang berbeda adalah, aku merasa hebat. Hebat karena telah melawan kenikmatannya.
Satu lagi, aku merasa ragu. Ragu aku bisa istiqomah.

Untuk itu aku mulai jurnal sederhana ini untuk jadi saksi.