Sebuah catatan-catatan singkat tentang aku tanpa rokok. Mencoba mensyukuri nikmat yang ada dan menuliskannya. Menjadi saksi sebuah perjalanan babak baru. -Journey-
Senin, 21 Maret 2016
Sudah Mulai Risih Melihat Orang Merokok
Setelah memantapkan niat malah aku lam-lama merasa risih melihat orang merokok. Padalah ketika merokok, berpikirnya orang merokok itu asik asik aja. Aku takut salah salah menilai orang. Tetap objektif brooo!
Sabtu, 19 Maret 2016
Bapak Sakit
Akhir minggu ini aku pulang. Banyak yang berubah di rumah. Kucingku menjadi 4 ekor dan warnanya pun serupa semua. Motor matic baru. Agung baru pulang dari Bali. Suasana rumah saja yang tetap tak berubah sama sekali.
Di waktu pagi hari, ibu berbicara banyak hal sembari kami berdua mencuci pakaian di belakang rumah. Ternyata bapak sakit. Bapak yang selama ini merasa tubuhnya sehat sehat saja tiba tiba berbagai indikasi muncul. Mulai dari gula, darah tinggi, sesak, dll. Waktu itu Adikku minta diantar ke rumah sakit gara gara lehernya keceklek setelah mematahkannya kekanan dan ke kiri. Ibu waktu itu mnegajak bapak dengan niatan untuk mengantar bersama ke rumah sakit dengan mobil. Tak taunya bapak sudah tidak kuat dan langsung merbahkan badan di UGD. Akhirnya Ibu yang mengantar adikku ke rumah sakit daerah.
Mulai saat itu bapak langsung merubah semua pola makan dan kesehatannya. Sekarang tidak merokok, tidak makan banyak nasi, tidak minum gula, makan sayur rebus, tidak makan gorengan, dan masih banyak lagi. Sekarang wajah bapak pun terlihat lebih segar. Alhamdulillah.
Separuh Hari Bersama Azka
Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya aku bisa juga bertemu
langsung. Jadi hari ini aku diajak jenguk tetangganya di PKU
Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah itu jemput adiknya, Salsa, di SMP 1.
Sepanjang jalan, ku lihat banyak tempat-tempat dan jalan-jalan yang
membuatku bernostalgia. Betapa beruntungnya aku saat ini. Betapa
beruntungnya aku mengenalnya. Tidak banyak hal yang berubah darinya.
Teruslah terbang tinggi.
Terima kasih. :)
Terima kasih. :)
Sabtu, 05 Maret 2016
Menyambut Bekantan
Hari yang istimewa bagi adik adikku. Tangis luka sakit perih semua bercampur menjadi tawa canda bahagia malam ini. Aku pun tak kuasa menahan rasa senangku. Mereka menawariku rokok dan ku terima sebagai rasa hormatku terhadap mereka malam ini saja. Setelah ini tidak lagi.
Selasa, 01 Maret 2016
What a Colorful Day!
Hari yang mungkin lebih tepatnya awkward.
Hari ini pagi dini hari aku melakukan hal yang tidak pas dilakukan olehku. Paginya semua berjalan kembali dengan cepat. Mulai dari ke Rektorat hingga ke kampus-kampus. Di rektorat meminta cap Universitas dan menyebarkannya ke kampus peserta yang sedang melakukan kegiatan. Siangnya menuju PKM. Makan siang dan meluncur ke Jepara bersama 3 orang .
Di Jepara aku harus menjemput Alfian dan Dhila yang terdampar dirumah Bule. Memang enak sekali disana, andai rumahku seperti itu. Pasti aku betah di rumah. Tak lama kami disana, kami langsung menuju ke Camp Saddle. Disana sudah ditunggu yang lain. Perjalanan kesana dibebani oleh Carrier Tronton 100 Liter. Sampai punggung serasa encok.
Juga melewati aliran sungai yang sempat menyeret Alfian. Memang unik sekali perjalanan malam itu. Ditambah ketika mendekati akhir perjalanan, kami harus terperosok ke dalam jurang sedalam 10 meter. Hampir saja kami jatuh bablas ke tebing. Untunglah selamat. Bodohnya aku, ketika Alfian jatuh ke jurang, reflek aku juga ikut lompat ke jurang bersama Alfian. Akhirnya kami berdua terjebak ditepian jurang.
Setelah jatuh kami berhenti di pohon terakhir, dan aku pun naik untuk meminta bantuan.
Hari ini pagi dini hari aku melakukan hal yang tidak pas dilakukan olehku. Paginya semua berjalan kembali dengan cepat. Mulai dari ke Rektorat hingga ke kampus-kampus. Di rektorat meminta cap Universitas dan menyebarkannya ke kampus peserta yang sedang melakukan kegiatan. Siangnya menuju PKM. Makan siang dan meluncur ke Jepara bersama 3 orang .
Di Jepara aku harus menjemput Alfian dan Dhila yang terdampar dirumah Bule. Memang enak sekali disana, andai rumahku seperti itu. Pasti aku betah di rumah. Tak lama kami disana, kami langsung menuju ke Camp Saddle. Disana sudah ditunggu yang lain. Perjalanan kesana dibebani oleh Carrier Tronton 100 Liter. Sampai punggung serasa encok.
Juga melewati aliran sungai yang sempat menyeret Alfian. Memang unik sekali perjalanan malam itu. Ditambah ketika mendekati akhir perjalanan, kami harus terperosok ke dalam jurang sedalam 10 meter. Hampir saja kami jatuh bablas ke tebing. Untunglah selamat. Bodohnya aku, ketika Alfian jatuh ke jurang, reflek aku juga ikut lompat ke jurang bersama Alfian. Akhirnya kami berdua terjebak ditepian jurang.
Setelah jatuh kami berhenti di pohon terakhir, dan aku pun naik untuk meminta bantuan.
Langganan:
Komentar (Atom)